Selasa, 30 November 2010

Menilai.. atau Menghakimi.. ??


Dear all..
Akhir-akhir ini saya gelisah.. sebab rupa-nya tidak semua
orang tau, beda-nya menghakimi dan menilai..

Ada yang berusaha memberikan penilaian.. ternyata berakhir
dengan menghakimi..

Menilai sesuatu perkara adalah hal yang baik. Sebab dengan
menilai, kita bisa membedakan, mana hal yang baik, boleh di
lakukan dan mana hal yang buruk, yang tidak boleh di
lakukan.

Tetapi menilai dan menghakimi adalah hal yang berbeda.

Menilai: Lumpur itu kotor, tidak baik untuk mainan adik bayi
juga tidak boleh dimakan adik bayi.
Menghakimi: Lumpur itu kotor, sangat menjijikkan, hiii jijay
dehh.. !!

Menilai: Ada jerawat di wajah si A.. Perlu perawatan khusus
untuk membuat kulit si A jadi sehat tanpa jerawat.
Menghakimi: Wajah si A jerawatan, jelek banget deh !!

Menilai: Si B mengambil barang orang lain tanpa ijin,
perbuatan itu di sebut mencuri. Mencuri itu tidak baik.
Kita tidak boleh mencuri.
Menghakimi: Si B yang mengambil barang itu, dasar pencuri !!

Ya, dan seterus-nya.. mesti-nya udah jelas yah..

Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang
lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan
tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan
berkuasa menjaga dia terus berdiri. (Roma14:4)

Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi
saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina
saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta
pengadilan Allah. (Roma 14:10)

Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi
pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.
Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi!
(Roma 14:12)

Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman,
tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh
Roh Kudus. (Roma 14:17)

Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan
damai sejahtera dan yang berguna untuk saling
membangun. (Roma 14:19)

Nah,.. mari kita belajar menilai, untuk mengejar apa yang
mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk
saling membangun.. :)

God bless u all ;p

Rabu, 08 September 2010

Kesaksian ibu Francisca Dhani yang sembuh dari sakit stroke

Kesaksian ini adalah babak berikutnya dari jalan hidup kami di dalam Tuhan.. ;p

Episode baru dalam hidupku.. ;p


Papaku sudah pergi tahun 2007.. mamaku baru saja menyusul tahun 2010 ini..
Tapi Puji Tuhan tahun ini papa dan mama mertuaku udah mulai tinggal di rumahku..
(Sebelumnya mereka tinggal di luar kota, kira-kira 6 jam perjalanan dari rumahku).

Aku bersyukur buat papa dan mama mertua yang baik ini.. Mereka orang tua yang sederhana.. Dengan keinginan-keinginan yang sederhana pula.. Tak sulit buat ku untuk menyayangi mereka.. :)

Rencana Tuhan sungguh sempurna.. Papa mama mertua tinggal serumah, jadi kami tidak perlu cemas lagi kalo ada masalah dengan kesehatan mereka.. Tinggal di doakan, atau beli obat, atau bawa ke dokter.. :)

Tak terasa, sejak 22 Januari 2010 ini, sudah 8 bulan-an mereka tinggal bersama kami..
Dan semakin hari, aku dan suamiku semakin bersyukur karena Tuhan ijinkan kami untuk "merawat dan menyayangi" mereka..

Terimakasih ya Tuhan.. Kerinduan hati kami adalah menyenangkan hatiMU, mempermuliakan namaMU.. pimpin kami selalu supaya bisa mejadi garam dan terang buat papa dan mama.. :)

Minggu, 11 April 2010

Detik-detik menjelang kematian..


Sebuah pengalaman pribadi yang pertama kali aku alami,
adalah melepas kepergian mama-ku.. Mulai dari kesulitan
beliau untuk bernapas.. sampai pada ketakutan beliau
menjelang saat-saat terakhirnya.. "Aku jangan di tinggal.. aku
jangan di tinggal.. !!" begitu kata-nya, sambil memeluk kakak
ipar-ku yang dengan setia mendampingi di sebelah kiri
pembaringan-nya di ICU.. sementara aku sendiri
mendampingi beliau di sebelah kanan pembaringan-nya. Tak
lama setelah beliau memeluk kakak ipar-ku.. kemudian
posisi beliau berbalik menghadap ke arahku, tangan kirinya
mendarat di punggung kananku.. wajahnya menghadap ke
arahku.. kulihat nafas-nafas terakhirnya meluncur satu-satu..

Tak lama kemudian.. seorang perawat menyarankan untuk
mengembalikan posisi mama ke posisi terlentang.. dimana
hal itu membuat beliau semakin kesulitan bernafas.. Aku
melihat mama kesulitan mengendalikan air liur-nya, dan ku
minta perawat untuk membersihkannya dengan alat
penyedot khusus.. Selesai di bersihkan,.. sang perawat
minta aku untuk menyapa mama, karena rupanya terlihat
tanda-tanda kesadaran mama sudah menurun.. Segera ku
sapa mama.. "Ma.. mama.. gimana ma.. apa sudah enak-an
nafas-nya?.." Tak ada reaksi. Jadi ku sapa mama sekali
lagi.. "Mama.. gimana ma apa udah lega nafas-nyaa?"..
Tetap tak ada reaksi. Pandangan matanya kosong..

Sang perawat segera membisik-kan di telinga-ku.. supaya
aku siap mental.. katanya.. "Kondisi mama sudah sangat
menurun.. harap siap mental.. berdoa saja.."
Aku tanya, apakah kakak ipar-ku juga sudah di beritahu hal
yang sama.. ternyata belum.. maka aku minta sang perawat
untuk memberitahu kakak iparku yang sedang tegang itu..

Maka sementara para perawat sedang berusaha
mengembalikan detak jantung dan nafas mama (sambil
mereka berusaha menghubungi dokter jaga).. kami (aku &
kakak ipar-ku) sama-sama berdoa,.. berdoa buat mama
yang kami sayangi.. Tak putus-putus-nya hati-ku memohon
kepada Tuhan Yesus.. Tuhan.. tolong lepaskan mama dari
penderitaan-nya.. Tuhan Yesus tolong mamaku.. aku mohon
belas kasihanMu.. tolong lepaskan mama-ku dari segala
penderitaan-nya.. mohon ampuni segala dosa-nya..

Tak lama kemudian seorang dokter datang.. dan mengambil
alih usaha untuk mengembalikan detak jantung dan nafas
mamaku.. tidak lama.. kira-kira beberapa menit kemudian,
sang dokter menggeleng-gelengkan kepalanya sambil
memandangku.. "Sudah tidak bisa.." begitu katanya. Aku
berusaha mempertegas kalimat dokter tersebut.. "Jadi,
mama saya sudah pergi, Dok?.. "Iya.." Jawab sang dokter
tersebut sambil mengangguk, dan segera melihat kearah
jam dinding dan jam tangan-nya.. "Waktu sekarang
menunjukkan jam 12.55"

Dan.. begitu saja.. hanya selang beberapa detik telah terjadi
perpindahan dari alam kehidupan menuju alam kematian.

Yang pertama kurasakan adalah kelegaan, bahwa mamaku
sudah terlepas dari penderitaannya yang berkepanjangan..
maka segera aku mengucapkan "Selamat jalan ya Ma".. Lalu
aku menghampiri mamaku, aku cium pipi kiri dan kanan-
nya.. juga kening-nya.. aku peluk mama untuk terakhir kali-
nya sambil ku ucapkan.. "mama.. mama sekarang sudah
tenang ya.. sudah ketemu sama Tuhan Yesus yaa.."

Selanjutnya yang terlintas di pikiranku adalah.. betapa
tipisnya jarak antara hidup dan mati. Dalam sekejap saja
semua yang di cari mamaku seumur hidupnya menjadi tak
berarti lagi.

Kemudian perasaanku menjadi campur aduk tidak karuan.
Antara sedih.. dan kesadaran bahwa aku seharusnya lega..
karena mamaku sudah tidak menderita lagi.

Sekali lagi terlintas di pikiranku.. betapa tipis-nya batas
antara hidup dan mati.. Betapa singkat rasanya waktu untuk
kita menjalani kehidupan ini.. Lalu aku merenungkan lagi,
ahh.. jelas sudah, bahwa hidup ini memang singkat.. dan tak
tahu kapan Tuhan akan panggil kita.

Dan beberapa pertanyaan untuk di renungkan-pun jadi
terlintas di pikiranku:
1. Apakah yang sudah kita kerjakan selama kita hidup?
2. Apakah hidup kita sudah menjadi berkat buat orang lain?
3. Apakah kita sudah hidup untuk Tuhan?
4. Apakah kita sudah menghargai dan mensyukuri setiap
detik yang Tuhan karuniakan dalam hidup kita?
5. Kalau sewaktu-waktu Tuhan mau panggil kita, apakah kita
sudah siap?

Mama, selamat jalan.. aku sungguh berharap mama
mendapat tempat yang baik di sisi Tuhan Yesus, di mana
mama tidak akan lagi harus menanggung penderitaan dunia.

Terimakasih Tuhan, sebab melalui peristiwa ini, aku jadi
semakin menghargai dan mensyukuri setiap peristiwa yang
terjadi, didalam setiap detik kehidupan yang Kau anugrahkan
padaku. Terpujilah Kau Tuhan.. Haleluyah.. Amenn ;p

Rabu, 27 Januari 2010

BUAT APA SIH KITA HIDUP ???


Masa kecil saya tidak termasuk ideal. Latar belakang kerohanian keluarga saya
campur aduk. Karena kondisi ekonomi yang serba terbatas, maka orang tua saya
menganut paham seperti ini: "biarkan anak-anak memilih sendiri agama mereka, pada
waktu mereka sudah cukup dewasa untuk memilih nanti-nya". Dengan kata lain, boro
-boro ngurusin urusan rohani anak, buat bertahan hidup saja sudah cukup repot.

Berdasarkan situasi dan kondisi keluarga yang seperti ini, harap maklum-lah kalo, bisa di bilang, bahwa saya tumbuh sendiri. Yang penting orang tua sudah bertanggung jawab akan kelangsungan hidup saya, memberi saya makan, menyekolahkan saya..

Saya harus bersyukur untuk perjuangan orang tua saya ini.
Untuk urusan mental spritual, ya saya mesti tau diri-lah.. cari sendiri aja.

Sejak kecil.. hari demi hari saya jalani dengan berusaha untuk men"cerna"..
apa sih sebenarnya yang terjadi dalam hidup saya ini?

Sejauh yang saya ingat, perjuangan orang tua saya untuk menghidupi
keluarga kami sangatlah berat. waktu usia SMP, saya pertanyakan:
Untuk apa Tuhan bikin saya di lahirkan di keluarga ini, kalo keberadaan
saya cuma jadi beban saja buat orang tua saya. Bahkan saya berpikir untuk semua manusia di dunia ini. Untuk apa manusia itu hidup, untuk apa hidup hanya untuk jadi susah. Bayi di lahirkan, harus di hidupi, lalu di sekolahkan, lalu harus bekerja, lalu harus menikah, lalu harus punya bayi lagi.. bayi-nya ini lalu harus melalui siklus hidup yang sama dengan orang tua-nya.. begitu seterusnya. Jadi, saya mempertanyakan, buat apa sih orang harus punya anak, nanti
kan kasihan kan anaknya itu menjalani hidup dengan susah payah.

Di tengah berkecamuk-nya pikiran saya yang "ajaib" itu,
yang membuat saya tidak ingin hidup lagi,..
puji Tuhan, saya menemukan satu ayat firman Tuhan yang membuat
saya tau, buat apa saya hidup:

Roma 14:8 Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan,
dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan.
Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.

Sejak itu, saya tidak mempertanyakan, buat apa saya hidup.
Sebab bukankah baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan
dan karena itu kita hidup untuk Tuhan?

Seperti apa sih hidup buat Tuhan itu? Saya juga nggak tau persis.
Setahu saya hidup buat Tuhan itu ya mestinya hidup yang baik.
Maka saya berusaha hidup sebaik-baiknya.
Nah, seperti apa hidup yang sebaik-baiknya itu? Ini dia jawaban Tuhan:

Kolose 3:23 Apa pun juga yang kamu perbuat,
perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan
dan bukan untuk manusia.

Kalo saya sudah hidup untuk Tuhan dan mengerjakan
segala sesuatu untuk Tuhan, lalu, kenapa hidup saya
"tak seindah dongeng anak-anak" ? Sekali lagi Tuhan berikan
jawaban buat saya, melalui firmanNYA :

Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja
dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi
mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang
terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Jadi kesimpulannya:
1. Tidak masalah, baik saya hidup ataupun mati,
sebab hidup atau mati saya adalah buat Tuhan.
2. Lalu, tidak masalah, apapun yang saya kerjakan
dalam hidup ini, selama itu semua saya kerjakan
yang terbaik buat Tuhan.
3. Dan, tidak masalah apapun yang terjadi dalam hidup saya
(baik itu kejadian baik atau buruk, enak atau nggak enak kelihatannya),
sebab saya tau, bahwa dalam hal apapun yang terjadi,
Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan
kebaikan bagi mereka yang mengasihi DIA..

Semoga secuil kisah ini bisa berguna, buat mereka yang pernah
mengalami hal-hal yang "mirip" dengan yang saya alami.. ;p

God bless u all ^o^

Kamis, 12 November 2009

SUDAHKAH KITA MELIHAT DENGAN MATA-NYA TUHAN?


Ketika seseorang di anggap "aneh".. atau "tidak biasa".. maka biasa-nya lingkungan
sekitarnya akan "menceritakan".. "membuat jadi topik pembicaraan"..
atau bahkan.. bisa juga "membuat jadi bahan tertawa-an"..

Pernahkah kita coba menempatkan diri sebagai orang yang jadi bahan cerita atau bahan
tertawa-an tersebut.. ? Bagaimana-kah rasa-nya di tertawakan.. ? Bagaimanakah
rasanya di "bicara-kan" di "belakang" kita?

Tidak bisa saya pungkiri, bahwa, kadang tawa saya bisa otomatis meledak, saat ada
peristiwa yang "aneh" & "lucu" sedang jadi topik pembicaraan di sekitar saya.. Tapi
sesaat setelah tawa saya "meledak".. hati nurani saya segera terusik & segera saya
menyesal.. duhh.. kenapa ya kok saya nggak bisa menahan ketawa saya..

Hari Senin, 9 November 2009, saya mengikuti sebuah acara, dan salah satu pokok
bahasan yang sangat penting buat saya adalah bahwa kita harus melihat segala
sesuatu dengan mata-nya Tuhan.. ini arti-nya.. se-"aneh" apa-pun, atau se-"tidak biasa"
apa-pun seseorang, kita harus berusaha melihat dia dari sudut pandang Tuhan, dengan
hati Tuhan, dengan mata Tuhan..

Seturut iman saya, setiap orang berharga di mata Tuhan, Tuhan saya mati di kayu salib
buat menebus dosa setiap orang yang mau percaya dan di selamatkan..

Yohanes
3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah
mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya
tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal..

I Timotius 2:3 Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita,
2:4 yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan
akan kebenaran.

Kira-kira begitu-lah firman Tuhan yang saya pelajari dan saya percayai, yaitu :
1. Bahwa Tuhan begitu mengasihi kita, sehingga IA mengaruniakan Anak-Nya yang
tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh
hidup yang kekal..
2. Dan satu hal lagi, yaitu bahwa Tuhan, sang Juruselamat itu, menghendaki supaya
semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.

Jadi, kalo Tuhan saja melihat setiap orang berharga di mata-Nya.. lalu siapakah kita,
sehingga kita bisa mentertawakan sesama manusia? Siapakah kita, sehingga kita bisa
menghakimi sesama manusia? Siapakah kita, sehingga kita tidak ber-belas kasih pada
sesama kita?

Sabtu, 11 Juli 2009

JAKA SEMBUNG PAKE PISPOT.. UDAH NGGAK NYAMBUNG PAKE NGOTOT..


He he.. pernah nggak kita mengalami hal yang bisa bikin kita pengen mengatakan kalimat judul di atas?



Ada, gitu.. komunikasi "nggak nyambung" antara orang tua dan anak..
antara antara suami dan istri.. atasan dan bawahan..
antara rekan-rekan sekerja..
pokoknya.. buanyaaaak dehh komunikasi yang nggak nyambung..
dan masing-masing pihak, bukannya menahan diri dan berusaha berpikir jernih..
eh.. makin lama malah makin ngotot dengan pendapatnya sendiri-sendiri..
ya nggak.. ha ha.. Buat penonton di luar "arena".. ini tentu sebuah tontonan
yang unik.. tapi buat yang bersangkutan (pelaku nggak nyambung yang
sama-sama ngotot itu tadi).. percaya dehh.. pasti beteee buangett rasa-nya !!

Kita tentu nggak mau mengalami kondisi "nggak nyambung"..
apalagi pake "ngotot-ngotot"-an... capee dehh..

Nah, gimana cara-nya supaya "nyambung"??
Dari pengalaman hidup saya selama ini, saya mengalami, sungguh,.. bahwa
Tuhan itu luar biasa. Tuhan mengajarkan kepada saya sebuah bahasa yang
bisa "menyambung"-kan situasi yang "nggak nyambung banget". Bahasa
apa itu??.. Sederhana saja jawabnya,.. BAHASA KASIH gitu lohh !!

Apa itu bahasa kasih? Coba kita simak..
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu.
Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Ia tidak melakukan yang tidak sopan
dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.
Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu,
mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Gimana.. jelas nggak??.. Atau mungkin terlalu rumit?..
Gimana supaya nggak rumit??..
Supaya nggak rumit, ya musti sederhana..
Sederhana-nya begini,..
di dunia ini, tidak ada orang yang tidak butuh kasih
sayang.. tidak ada orang yang tidak mau di sayang..
biar se-galak dan se-jahat apa-pun seseorang,
pasti dia tidak bisa menolak kasih sayang dan
kebaikan dari orang lain.

Biar se-galak dan se-jahat apa-pun seseorang,
pasti lama-lama akan nggak enak hati juga-lah,
kalau kita tetap konsisten bersikap baik dan mengasihi dia..
ya nggak.. ya nggak.. ya nggak.. ;p
Saya pernah, dulu.. selama beberapa tahun, di cuek-in dan di galak-in
seorang teman.. tapi karena saya belajar, bahwa kasih itu adalah bahasa
yang paling "nyambung" di dunia ini.. maka saya tetap berusaha untuk tetap
menyayangi teman tersebut.. saya tetap menyapa dia, saya tetap mengasihi
dia, saya tetap bersikap baik pada-nya.. Apa yang terjadi setelah ber-tahun-
tahun kemudian? Teman saya yang galak tersebut akhirnya mulai belajar
untuk mengenal Tuhan lebih dekat.. bukankah ini sebuah hasil yang baik??
Kita bisa mulai dari diri kita sendiri.. mulai belajar mengasihi,
atau lebih mudahnya.. mulai belajar menyayangi orang lain..
Orang lain, ya.. itu artinya bukan cuma teman, saudara.. atau orang tua..
Orang lain itu artinya ya termasuk..
orang-orang yang "memusuhi" kita, yang "tidak suka" pada kita,
yang "tidak kenal" kita, yang beda status sosial, beda suku,
beda ras, beda kepercayaan,.. pokoknya.. orang lain.. ya orang lain..
semua orang lain, tanpa kecuali.

Kita bisa coba buktikan, apakah situasi lingkungan kita, baik di rumah,
di kantor, di masyarakat luas.. akan menjadi lebih baik, kalo kita mau mulai
belajar mengasihi, sekalipun terhadap orang-orang yang "sulit" untuk di
kasihi.. Setidaknya, kalo kita mulai belajar mengasihi.. kita bisa memberi
kesempatan pada orang lain untuk belajar mengasihi juga.
Orang lain, yang galak, yang jahat, yang judes.. mungkin belum tau, gimana
sih cara mengasihi.. jadi, alangkah baik-nya kalo kita ber-murah hati dengan
cara memberikan contoh.. gini lho cara mengasihi itu.. nah.. gimana rasanya
di kasihi? enak kan di kasihi? maka-nya.. yuk kita saling mengasihi aja.. dari
pada saling meng-galak-i atau saling men-judes-i.. he he.. ^o^

Ada sebuah kalimat bijak yang berkata:
Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman,
tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.

Setidak-nya.. kita bisa mulai dengan wajah, sikap dan tutur kata yang ramah..
yang meluap dari hati yang mau mengasihi.. mudah kan?
Kasih itu tidak rumit. Kasih itu cuma perlu hati.

Nah,.. kalo kita sudah mulai belajar mengasihi..
se "pispot" apa-pun si "jaka sembung"..
atau se"ngotot" apa-pun si orang yang "nggak nyambung" itu..
pasti bisa kita hadapi dengan hati yang legowo.. yang ikhlas.. yang adem..
yang damai.. jadi kita nggak perlu cape-cape ikut-an ngotot.. nggak perlu
habis energi buat emosi yang bikin "makan hati".. lebih enak, kan.. he he.. ^o^

God bless u all ;p